Sejak awal kehadirannya, Islam telah
memperkenalkan hakikat
manusia sebagaimana yang tercermin dalam konsep Fitrah-nya. Namun sampai kini
masih tersisa pertanyaan dikalangan kita, apa hakikat fitrah itu sebenarnya.
Para ahli telah membahas pengertian fitrah ini dari berbagai sudut pandang yang
berbeda. Dari perbedaan pandangan dan pendekatan dicoba ditelusuri makna fitrah
yang sesungguhnya. Perbedaan pandangan yang ada itu, ternyata masing-masing
berdiri dan berpijak pada argumen yang kuat, sehingga berbagai argumen
defenitif itu mengarah pada pengertian yang sama.
Dengan merujuk pada salah satu ayat al-Qur’an, Allah Swt., berfirman pada surat Ar-Rum (30);30:
Dengan merujuk pada salah satu ayat al-Qur’an, Allah Swt., berfirman pada surat Ar-Rum (30);30:
فأقم وجهك للدين حنفا, فطرت الله التى فطر الناس عليها, لا تبديل لخلق الله, ذلك الدين القيم ولكن اكثر الناس لايعلمون.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”.
a. Fitrah berarti suci (Thuhr)
Menurut al-Qurtubi, t. th ; 5106), fitrah berarti kesucian, dalam jasmani dan rohani. Akan tetapi dalam konteks pendidikan, kesucian adalah kesucian dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi (1988; 68) bahwa ;
“Manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehdidupannya, tak peduli dengan lingkungan, masyarakat, dari keluarga macam apapun dia dilahirkan. Islam menyangkal setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa waris, dan tanggungjawab penebusan serta keterlibatannya dalam kesukuan, nasional maupun internasional”.
Dengan demikian sangat tidak beralasan kalau konsep
tabulrasa dari aliran behavio
risme, prakarsa Jhon Locke, yang mengatakan bahwa
manusia itu lahir tidak mempunyai kecenderungan baik maupun buruk (netral).
b. Fitrah berarti Islam (dienul Islam)
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Namun pemaknaan al-Islam menurut Abu Said al-Khudri, sebagaimana yang ditulis oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya tidaklah tepat, sebab kalau manusia lahir dengan bawaan agama Islam, mengapa pada tahap berikutnya terdapat banyak manusia yang menjadi kafir, dan mengapa pula dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa ada satu kaum yang khusus diciptakan oleh Allah Swt., untuk menjadi penghuni neraka. Allah berfirman, pada surat al-A’raf (7);179.
ولقدذرأنا لجهنم كثيرامن الجن والإنس, لهم قلوب لايفقهون بها ولهم أعين لايبصرون بها ولهمءاذان لايسمعون بها, أولئك كالأنعام بل هم اضل, أولئك هم الغفلوان
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”.
c. Fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah (at-Tauhid).
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya dan mencari secara terus-menerus untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan rasio manusia, penolakan terhadap politeisme bukan saja merupakan pembawaan, tetapi lebih dari itu, merupakan rangkaian analisis dari fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta baik secara mikro maupun secara makro.
Secara kodrati, sebagaimana yang ditulis oleh Muhaimin dan Mujib (1993; 15) manusia telah menemukan tauhid walaupun masih dalam kapasitasnya yang immaterial (alam roh). Hal ini terjadi dari konsensus antara Allah Swt., dan roh yang selanjutnya menjadi konstitusi umum. Sebagian mufassir memadukan makna fitrah dengan al-Islam dan at-Tauhid sebagai upaya kompergensi terhadap pemaknaan fitrah di atas.
Dari sekian banyak makna fitrah yang telah dikemukakan oleh para ahli, sengaja penulis hadirkan karena potensi dasar untuk mendapatkan hidayah dari Allah Swt., ternyata sudah ada pada setiap manusia, baik yang kelak tetap menjadi muslim, maupun yang kemudian menjadi orang-orang kafir dan pembangkan terhadap perintah Allah.
Dari paparan latar belakang yang telah dikemukakan, teridentifikasi dua permasalahan yang dapat dibahas dalam tulisan ini, yaitu ; Pertama, ada berapa jenis hidayah yang dikenal dalam Islam. Kedua bagaimana fungsi hidayah dalam Islam.
Dua hal tersebut menjadi pijakan awal untuk mengetahui jenis-jenis hidayah yang dikenal dalam Islam dan fungsi hidayah itu sendiri bagi seorang muslim.
1. Pengertian Hidayah
Hidayah sebagai modal dasar seorang hamba dalam meraih dan mendapatkan kebahagiaan akhirat, maupun kebahagiaan dunia, menjadi dambaan setiap orang. Namun karena pengaruh dari luar diri manusia yang kadang menjadi kendala dan penghadang bagi seseorang untuk meraih dan mendapatkan hidayah. Berikut dikemukakan pengertian hidayah yang telah dikemukakan oleh para agamawan :
Kata hidayah berasal dari kata hadaa yang berarti menunjukkan atau memberi petunjuk Anshari (t. th, 103). Lain halnya dengan Quraish (1992; 55), bahwa hidayah berasal dari akar kata hadaa yang berarti memberi petunjuk (atau) suatu yang mengantar kepada apa yang diharapkan, yang disampaikan kepada manusia secara halus dan lemah lembut. Demikian juga dengan at-Thaba-Thaba’iy (t. th; 37), bahwa hidayah adalah menunjukkan atau memperlihatkan tujuan akhir dengan cara menunjukkan jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Hidayah merupakan petunjuk yang halus yang dapat membawa manusia kepada tercapainya sesuatu yang diinginkan, Abduh (t. th; 62).
Makna, Hakikat Dan Macam-Macam Hidayah
Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad
(bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk).Adapun secara syar’i, maka
Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala
menjadi empat macam:
1. Hidayah yang bersifat umum dan
diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:
{قَال
َرَبُّنَا الَّذِي
أَعْطَى كُلَّ
شَيْءٍ خَلْقَهُ
ثُمَّ هَدَى}
“Musa berkata: “Rabb kami (Allah
Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk
kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).
Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah Ta’ala
berikan kepada semua makhluk dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan
kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal
yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup
di dunia.
2. Hidayah (yang berupa) penjelasan dan
keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan
keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk
Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi tidak
mesti melahirkan (hidayah Allah Ta’ala yang sempurna). Inilah makna
firman Allah:
{وَأَمَّا
ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ
فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى
عَلَى الْهُدَى}
“Adapun kaum Tsamud, mereka telah
Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada
petunjuk” (QS Fushshilat: 17).
Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan
kepada mereka (jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.
Hidayah inilah yang
mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke
jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan
memperingatkan jalan yang salah, akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu
taufik) hanya ada di tangan Allah Ta’ala, meskipun tentu saja hidayah
ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia agar mau mengikuti
petunjuk Allah Ta’ala dengan taufik-Nya.
Allah Ta’ala berfirman tentang
Rasul-Nya:
{وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى
صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
“Sesungguhnya engkau (wahai
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi petunjuk
(penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).
3. Hidayah taufik, ilham (dalam hati
manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima
kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan
orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Inilah yang
disebutkan dalam firman-Nya:
{فإن
الله يُضِلُّ
مَنْ يَشَاءُ
وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ فَلا
تَذْهَبْ نَفْسُكَ
عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}
“Sesungguhnya Allah menyesatkan
siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).
Dan firman-Nya:
{إِنْ
تَحْرِصْ عَلَى
هُدَاهُمْ فَإِنَّ
اللَّهَ لا
يَهْدِي مَنْ
يُضِلُّ وَمَا
لَهُمْ مِنْ
نَاصِرِينَ}
“Jika engkau (wahai Muhammad
Shallallahu’alaihi Wasallam) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk,
maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang
disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).
Juga firman-Nya:
{إِنَّكَ
لا تَهْدِي
مَنْ أَحْبَبْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ
يَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad
Shallallahu’alaihi Wasallam) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang
engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau
menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).
Maka dalam ayat ini Allah menafikan
hidayah ini (taufik) dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan
menetapkan bagi beliau Shallallahu’alaihi Wasallam hidayah dakwah
(bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:
{وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى
صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
“Sesungguhnya engkau (wahai
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi petunjuk
(penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).
4. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada
Surga dan Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman tentang
ucapan penghuni Surga:
{وَقَالُوا
الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي هَدَانَا
لِهَذَا وَمَا
كُنَّا لِنَهْتَدِيَ
لَوْلا أَنْ
هَدَانَا اللَّهُ
لَقَدْ جَاءَتْ
رُسُلُ رَبِّنَا
بِالْحَقِّ}
“Segala puji bagi Allah yang telah
memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke
Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).
Adapun tentang penghuni Neraka, Allah Ta’ala
berfirman:
{احْشُرُوا
الَّذِينَ ظَلَمُوا
وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا
كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ
دُونِ اللهِ
فَاهْدُوهُمْ إِلَى
صِرَاطِ الْجَحِيمِ}
“Kumpulkanlah orang-orang yang
zhalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka
sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS
ash-Shaaffaat: 22-23)”.
Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:
- Hidayah yang bersifat mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
- Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam”.
Konsep Hidayah Dalam Alquran
Kata hidayah dalam
al-Qur’an tidak ditemukan dalam bentuk kata ةيادهلا (alhidayah)
secara eksplisit, melainkan hanya dalam bentuk kata yang memiliki akar
kata yang sama, yaitu sebanyak 293 kata dengan seluruh derivasinya. Secara bahasa,
hidayah berarti petunjuk atau bimbingan dari Tuhan. Adapun secara terminologi
berarti penjelasan dan petujuk jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada
tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.
Klasifikasi hidayah dalam Alquran terdiri atas empat macam, yaitu :
secara eksplisit, melainkan hanya dalam bentuk kata yang memiliki akar
kata yang sama, yaitu sebanyak 293 kata dengan seluruh derivasinya. Secara bahasa,
hidayah berarti petunjuk atau bimbingan dari Tuhan. Adapun secara terminologi
berarti penjelasan dan petujuk jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada
tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.
Klasifikasi hidayah dalam Alquran terdiri atas empat macam, yaitu :
a.
Hidayahi’tiqadiyah, yaitu petunjuk terkait keyakinan hidup.
b. Hidayah thariqiyah,yaitu petunjuk
terkait jalan hidup.
c.
Hidayah ‘amaliyah, yaitu petunjuk terkait aktivitas hidup.
d.
Hidayah Fitriyah (Fitrah), yaitu petunjuk hidup yang
bersifat bawaan untuk survive (bertahan hidup).
Hidayah
keagamaan terbagi atas dua yaitu :
1. Pertama,
hidayah atau petunjuk dalam arti
menyampaikan kepada pihak lain ajaran-ajaran agama
dan atau memberi contoh penerapannya.
Ini adalah “hidayah irsyad”. Hidayah semacam ini dilakukan oleh Allah dan dapat juga dilakukan oleh
manusia.
2. Kedua,
hidayah atau petunjuk keagamaan
serta pemberian kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk itu.Hidayah itu
adalah “hidayah taufik’. Ia tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah
Swt.Beberapa usaha manusia untuk memperoleh hidayah menurut Alquran, yaitu bertauhid, taubat, belajar agama,
mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi
apa yang dilarangNya, membaca Alquran, memahami dan mengamalkannya, berpegang teguh kepada
agama Allah, mengerjakan shalat, dan berkumpul
dengan orang shaleh. Seseorang tidak mendapatkan
hidayah karena melakukan berbagai
perbuatan buruk dan kezaliman.
sekian dari pembahasan saya kali ini informasi di atas di kutip dari link - link berikut ini:
http://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/FT/article/view/678